Buku Bahasa Indonesia Guyton And Hall Textbook of Medical Physiology 20-29

PRINSIP DASAR OSMOSIS DAN TEKANAN OSMOTIK

Prinsip dasar osmosis dan tekanan osmotik telah dibahas pada Bab 4. Oleh karena itu, pada bagian ini hanya akan ditinjau aspek-aspek terpenting dari prinsip-prinsip tersebut yang berkaitan dengan regulasi volume.

Karena membran sel relatif impermeabel terhadap sebagian besar zat terlarut tetapi sangat permeabel terhadap air (yaitu bersifat permeabel selektif), setiap kali terdapat konsentrasi zat terlarut yang lebih tinggi pada satu sisi membran sel, air akan berdifusi melintasi membran menuju daerah dengan konsentrasi zat terlarut yang lebih tinggi.

Dengan demikian, jika suatu zat terlarut seperti natrium klorida ditambahkan ke cairan ekstraseluler, air akan segera berdifusi keluar dari sel melalui membran sel menuju cairan ekstraseluler hingga konsentrasi air pada kedua sisi membran menjadi sama.

Sebaliknya, jika suatu zat terlarut seperti natrium klorida dihilangkan dari cairan ekstraseluler, air akan berdifusi dari cairan ekstraseluler melalui membran sel masuk ke dalam sel.

Osmolalitas dan Osmolaritas

Konsentrasi osmolal suatu larutan disebut osmolalitas apabila dinyatakan dalam osmole per kilogram air; sedangkan disebut osmolaritas apabila dinyatakan dalam osmole per liter larutan.

Pada larutan encer seperti cairan tubuh, kedua istilah ini dapat digunakan hampir secara sinonim karena perbedaannya sangat kecil. Sebagian besar perhitungan yang digunakan secara klinis dan perhitungan yang dibahas dalam beberapa bab berikutnya didasarkan pada osmolaritas, bukan osmolalitas.

Perhitungan Osmolaritas dan Tekanan Osmotik Suatu Larutan

Dengan menggunakan hukum van’t Hoff, tekanan osmotik potensial suatu larutan dapat dihitung dengan asumsi bahwa membran sel tidak permeabel terhadap zat terlarut tersebut.

Sebagai contoh, tekanan osmotik larutan natrium klorida 0,9% dihitung sebagai berikut.

Larutan 0,9% berarti terdapat 0,9 gram natrium klorida dalam 100 mililiter larutan, atau 9 g/L. Karena berat molekul natrium klorida adalah 58,5 g/mol, maka molaritas larutan tersebut adalah:

9 g/L ÷ 58,5 g/mol = 0,154 mol/L

Karena setiap molekul natrium klorida setara dengan 2 osmole, osmolaritas larutan tersebut adalah:

0,154 × 2 = 0,308 Osm/L

Dengan demikian, osmolaritas larutan tersebut adalah:

308 mOsm/L

Tekanan osmotik potensial larutan tersebut adalah:

Distributor pusat penjualan segala alat listrik tenaga surya. Toko online jual listrik tenaga matahari. Produsen Produk solar sel murah.www.tokosolarcell.net . daftar Paket harga penjualan listrik tenaga matahari

308 mOsm/L × 19,3 mmHg/mOsm/L = 5944 mmHg

Perhitungan ini merupakan pendekatan karena ion natrium dan klorida tidak berperilaku sepenuhnya independen dalam larutan akibat adanya gaya tarik antarikatan ion. Penyimpangan dari prediksi hukum van’t Hoff dapat dikoreksi dengan menggunakan faktor koreksi yang disebut koefisien osmotik.

Untuk natrium klorida, koefisien osmotiknya sekitar 0,93. Oleh karena itu, osmolaritas aktual larutan natrium klorida 0,9% adalah:

308 × 0,93 = sekitar 286 mOsm/L

Untuk alasan praktis, koefisien osmotik berbagai zat terlarut kadang-kadang diabaikan dalam penentuan osmolaritas dan tekanan osmotik larutan fisiologis.

Osmolaritas Cairan Tubuh

Dengan merujuk kembali pada Tabel 25-2, dapat dilihat perkiraan osmolaritas berbagai zat yang aktif secara osmotik dalam plasma, cairan interstisial, dan cairan intraseluler.

Sekitar 80% dari total osmolaritas cairan interstisial dan plasma disebabkan oleh ion natrium dan klorida, sedangkan pada cairan intraseluler hampir setengah osmolaritas disebabkan oleh ion kalium, dan sisanya terbagi di antara berbagai zat intraseluler lainnya.

Sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 25-2, total osmolaritas ketiga kompartemen tersebut sekitar 300 mOsm/L, dengan plasma sekitar 1 mOsm/L lebih tinggi dibandingkan cairan interstisial dan cairan intraseluler.

Perbedaan kecil antara plasma dan cairan interstisial ini disebabkan oleh efek osmotik protein plasma, yang mempertahankan tekanan sekitar 20 mmHg lebih tinggi di dalam kapiler dibandingkan pada ruang interstisial di sekitarnya, sebagaimana dibahas pada Bab 16.

Aktivitas Osmolar Terkoreksi Cairan Tubuh

Pada bagian bawah Tabel 25-2 ditunjukkan aktivitas osmolar terkoreksi dari plasma, cairan interstisial, dan cairan intraseluler.

Alasan dilakukannya koreksi ini adalah karena kation dan anion saling menarik satu sama lain, sehingga dapat menyebabkan sedikit penurunan aktivitas osmotik zat-zat terlarut tersebut.

KESEIMBANGAN OSMOTIK ANTARA CAIRAN INTRASELULER DAN EKSTRASELULER

Tekanan osmotik yang tinggi dapat berkembang melintasi membran sel akibat perubahan yang relatif kecil pada konsentrasi zat terlarut dalam cairan ekstraseluler.

Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, setiap gradien konsentrasi sebesar 1 mOsm dari suatu zat terlarut yang tidak dapat menembus membran sel (impermeant solute) akan menghasilkan tekanan osmotik sekitar 19,3 mmHg melintasi membran sel.

Apabila membran sel terpapar air murni dan osmolaritas cairan intraseluler adalah 282 mOsm/L, tekanan osmotik potensial yang dapat berkembang melintasi membran sel akan melebihi 5400 mmHg.

Hal ini menunjukkan besarnya gaya yang dapat memindahkan air melintasi membran sel ketika cairan intraseluler dan ekstraseluler tidak berada dalam keseimbangan osmotik. Akibat gaya-gaya tersebut, perubahan yang relatif kecil pada konsentrasi zat terlarut yang tidak dapat menembus membran dalam cairan ekstraseluler dapat menyebabkan perubahan besar pada volume sel.

Cairan Isotonik, Hipotonik, dan Hipertonik

Efek berbagai konsentrasi zat terlarut yang tidak dapat menembus membran sel dalam cairan ekstraseluler terhadap volume sel ditunjukkan pada Gambar 25-5.

Jika suatu sel ditempatkan dalam larutan yang mengandung zat terlarut impermeabel dengan osmolaritas 282 mOsm/L, sel tidak akan mengerut maupun membengkak karena konsentrasi air pada cairan intraseluler dan ekstraseluler sama, dan zat terlarut tidak dapat masuk atau keluar dari sel.

Larutan seperti ini disebut isotonik karena tidak menyebabkan penyusutan maupun pembengkakan sel. Contoh larutan isotonik adalah larutan natrium klorida 0,9% atau larutan glukosa 5%. Larutan-larutan ini penting dalam praktik klinis karena dapat diinfuskan ke dalam darah tanpa mengganggu keseimbangan osmotik antara cairan intraseluler dan ekstraseluler.

Jika suatu sel ditempatkan dalam larutan hipotonik yang memiliki konsentrasi zat terlarut impermeabel lebih rendah (< 282 mOsm/L), air akan berdifusi masuk ke dalam sel sehingga sel membengkak. Air akan terus berdifusi ke dalam sel, mengencerkan cairan intraseluler sekaligus memekatkan cairan ekstraseluler hingga kedua larutan memiliki osmolaritas yang hampir sama.

Larutan natrium klorida dengan konsentrasi kurang dari 0,9% bersifat hipotonik dan menyebabkan pembengkakan sel.

Jika suatu sel ditempatkan dalam larutan hipertonik yang memiliki konsentrasi zat terlarut impermeabel lebih tinggi, air akan mengalir keluar dari sel menuju cairan ekstraseluler sehingga cairan intraseluler menjadi lebih pekat dan cairan ekstraseluler menjadi lebih encer.

Dalam keadaan ini, sel akan mengerut hingga kedua konsentrasi menjadi sama. Larutan natrium klorida dengan konsentrasi lebih dari 0,9% bersifat hipertonik.

Cairan Isosmotik, Hiperosmotik, dan Hipo-osmotik

Istilah isotonik, hipotonik, dan hipertonik mengacu pada apakah suatu larutan akan menyebabkan perubahan volume sel. Tonisitas suatu larutan bergantung pada konsentrasi zat terlarut yang tidak dapat menembus membran sel.

Namun, beberapa zat terlarut dapat menembus membran sel. Larutan dengan osmolaritas yang sama dengan sel disebut isosmotik, tanpa memandang apakah zat terlarut tersebut dapat menembus membran sel.

Istilah hiperosmotik dan hipo-osmotik mengacu pada larutan yang masing-masing memiliki osmolaritas lebih tinggi atau lebih rendah dibandingkan cairan ekstraseluler normal, tanpa memperhatikan apakah zat terlarut tersebut dapat menembus membran sel.

Zat yang sangat mudah menembus membran, seperti urea, dapat menyebabkan perpindahan volume cairan sementara antara kompartemen intraseluler dan ekstraseluler. Namun, apabila diberikan waktu yang cukup, konsentrasi zat-zat tersebut pada akhirnya akan menjadi sama di kedua kompartemen dan hanya memiliki sedikit pengaruh terhadap volume intraseluler dalam keadaan steady state.

Keseimbangan Osmotik Antara Cairan Intraseluler dan Ekstraseluler Dicapai dengan Cepat

Perpindahan cairan melintasi membran sel terjadi sangat cepat sehingga setiap perbedaan osmolaritas antara kedua kompartemen ini biasanya terkoreksi dalam hitungan detik atau paling lama beberapa menit.

Pergerakan air yang cepat melintasi membran sel ini tidak berarti bahwa keseimbangan sempurna antara kompartemen intraseluler dan ekstraseluler di seluruh tubuh terjadi dalam periode singkat yang sama. Hal ini disebabkan karena cairan biasanya masuk ke tubuh melalui saluran cerna dan harus diangkut oleh darah ke seluruh jaringan sebelum keseimbangan osmotik yang lengkap dapat tercapai.

Biasanya diperlukan sekitar 30 menit untuk mencapai keseimbangan osmotik di seluruh tubuh setelah minum air.

Gambar 25-6. Pengaruh penambahan larutan isotonik (A), hipertonik (B), dan hipotonik (C) ke dalam cairan ekstraseluler setelah tercapainya keseimbangan osmotik. Keadaan normal ditunjukkan oleh garis utuh, sedangkan perubahan dari keadaan normal ditunjukkan oleh area yang diarsir. Volume kompartemen cairan intraseluler dan ekstraseluler ditunjukkan pada sumbu absis setiap diagram, sedangkan osmolaritas kompartemen-kompartemen tersebut ditunjukkan pada sumbu ordinat.

VOLUME DAN OSMOLALITAS CAIRAN EKSTRASELULER DAN INTRASELULER PADA KEADAAN ABNORMAL

Beberapa faktor yang dapat menyebabkan perubahan bermakna pada volume cairan ekstraseluler dan intraseluler meliputi konsumsi air yang berlebihan atau retensi air oleh ginjal, dehidrasi, infus intravena berbagai jenis larutan, kehilangan cairan dalam jumlah besar dari saluran gastrointestinal, serta kehilangan cairan yang abnormal melalui keringat atau ginjal.

Perubahan volume cairan intraseluler dan ekstraseluler serta jenis terapi yang harus diberikan dapat dihitung apabila prinsip-prinsip dasar berikut diingat:

  1. Air bergerak dengan cepat melintasi membran sel; oleh karena itu, osmolaritas cairan intraseluler dan ekstraseluler hampir selalu tetap sama satu sama lain, kecuali selama beberapa menit setelah terjadi perubahan pada salah satu kompartemen.
  2. Membran sel hampir sepenuhnya impermeabel terhadap banyak zat terlarut, seperti natrium dan klorida; oleh karena itu, jumlah osmole dalam cairan ekstraseluler atau intraseluler umumnya tetap relatif konstan kecuali jika zat terlarut ditambahkan ke atau hilang dari kompartemen ekstraseluler.

Dengan memahami prinsip-prinsip dasar ini, kita dapat menganalisis pengaruh berbagai keadaan abnormal cairan terhadap volume dan osmolaritas cairan ekstraseluler maupun intraseluler.

PENGARUH PENAMBAHAN LARUTAN SALIN KE DALAM CAIRAN EKSTRASELULER

Apabila larutan salin isotonik ditambahkan ke dalam kompartemen cairan ekstraseluler, osmolaritas cairan ekstraseluler tidak berubah. Efek utamanya adalah peningkatan volume cairan ekstraseluler (Gambar 25-6A). Natrium dan klorida sebagian besar tetap berada dalam cairan ekstraseluler karena membran sel berperilaku seolah-olah hampir tidak permeabel terhadap natrium klorida.

Apabila larutan hipertonik ditambahkan ke dalam cairan ekstraseluler, osmolaritas ekstraseluler meningkat dan menyebabkan osmosis air keluar dari sel menuju kompartemen ekstraseluler (lihat Gambar 25-6B). Sekali lagi, hampir seluruh natrium klorida yang ditambahkan tetap berada dalam kompartemen ekstraseluler, dan cairan berdifusi dari sel menuju ruang ekstraseluler untuk mencapai keseimbangan osmotik. Efek akhirnya adalah peningkatan volume ekstraseluler (lebih besar daripada volume cairan yang ditambahkan), penurunan volume intraseluler, dan peningkatan osmolaritas pada kedua kompartemen.

Apabila larutan hipotonik ditambahkan ke dalam cairan ekstraseluler, osmolaritas cairan ekstraseluler menurun, dan sebagian air ekstraseluler berdifusi ke dalam sel hingga kompartemen intraseluler dan ekstraseluler memiliki osmolaritas yang sama (lihat Gambar 25-6C). Baik volume intraseluler maupun ekstraseluler meningkat akibat penambahan cairan hipotonik, meskipun peningkatan volume intraseluler lebih besar.

Perhitungan Perpindahan Cairan dan Osmolaritas Setelah Infus Larutan Salin Hipertonik

Kita dapat menghitung efek bertahap dari infus berbagai larutan terhadap volume dan osmolaritas cairan ekstraseluler serta intraseluler.

Sebagai contoh, apabila 2 liter larutan natrium klorida hipertonik 3,0% diinfuskan ke dalam kompartemen cairan ekstraseluler seorang pasien dengan berat badan 70 kg yang memiliki osmolaritas plasma awal 280 mOsm/L, berapakah volume dan osmolaritas cairan intraseluler serta ekstraseluler setelah tercapai keseimbangan osmotik?

Langkah pertama adalah menghitung kondisi awal, termasuk volume, konsentrasi, dan total miliosmol dalam setiap kompartemen. Dengan mengasumsikan bahwa volume cairan ekstraseluler adalah 20% dari berat badan dan volume cairan intraseluler adalah 40% dari berat badan, diperoleh perhitungan berikut.

Langkah 1. Kondisi Awal

Kompartemen Volume (liter) Konsentrasi (mOsm/L) Total (mOsm)
Cairan ekstraseluler 14 280 3920
Cairan intraseluler 28 280 7840
Total cairan tubuh 42 280 11.760

Selanjutnya, dihitung total miliosmol yang ditambahkan ke cairan ekstraseluler melalui 2 liter larutan natrium klorida 3,0%.

Larutan 3,0% berarti terdapat 3,0 g/100 ml, atau 30 g natrium klorida per liter. Karena berat molekul natrium klorida sekitar 58,5 g/mol, maka terdapat sekitar:

30 g/L ÷ 58,5 g/mol = 0,5128 mol natrium klorida per liter larutan

Untuk 2 liter larutan:

0,5128 × 2 = 1,0256 mol natrium klorida

Karena 1 mol natrium klorida setara dengan sekitar 2 osmole (natrium klorida menghasilkan dua partikel yang aktif secara osmotik per mol), maka efek bersih penambahan 2 liter larutan ini adalah penambahan:

2051 mOsm natrium klorida

ke dalam cairan ekstraseluler.

Pada langkah kedua, dihitung efek sesaat dari penambahan 2051 mOsm natrium klorida ke cairan ekstraseluler bersamaan dengan penambahan volume 2 liter. Pada tahap ini belum terjadi perubahan konsentrasi maupun volume cairan intraseluler dan belum tercapai keseimbangan osmotik.

Namun, pada cairan ekstraseluler terdapat tambahan 2051 mOsm zat terlarut sehingga total menjadi 5971 mOsm. Karena volume kompartemen ekstraseluler kini menjadi 16 liter, konsentrasinya adalah:

5971 mOsm ÷ 16 liter = sekitar 373 mOsm/L

Dengan demikian, keadaan sesaat setelah penambahan larutan adalah sebagai berikut.

Langkah 2. Efek Sesaat Setelah Penambahan 2 Liter Natrium Klorida 3,0%

Kompartemen Volume (liter) Konsentrasi (mOsm/L) Total (mOsm)
Cairan ekstraseluler 16 373 5971
Cairan intraseluler 28 280 7840
Total cairan tubuh 44 Belum seimbang 13.811

Pada langkah ketiga, dihitung volume dan konsentrasi yang akan ditemukan beberapa menit setelah tercapai keseimbangan osmotik.

Dalam keadaan ini, konsentrasi cairan intraseluler dan ekstraseluler akan sama dan dapat dihitung dengan membagi total miliosmol tubuh (13.811) dengan total volume tubuh (44 liter).

Perhitungannya adalah:

13.811 ÷ 44 = 313,9 mOsm/L

Dengan demikian, seluruh kompartemen cairan tubuh akan memiliki konsentrasi 313,9 mOsm/L setelah tercapai keseimbangan osmotik.

Dengan asumsi tidak ada kehilangan zat terlarut maupun air dari tubuh dan tidak ada perpindahan natrium klorida masuk atau keluar sel, maka volume kompartemen dihitung sebagai berikut.

Volume Cairan Intraseluler

7840 mOsm ÷ 313,9 mOsm/L = 24,98 liter

Volume Cairan Ekstraseluler

5971 mOsm ÷ 313,9 mOsm/L = 19,02 liter

Sekali lagi, perhitungan ini didasarkan pada asumsi bahwa natrium klorida yang ditambahkan ke cairan ekstraseluler tetap berada di sana dan tidak masuk ke dalam sel.

Langkah 3. Efek Penambahan 2 Liter Natrium Klorida 3,0% Setelah Keseimbangan Osmotik

Kompartemen Volume (liter) Konsentrasi (mOsm/L) Total (mOsm)
Cairan ekstraseluler 19,02 313,9 5971
Cairan intraseluler 24,98 313,9 7840
Total cairan tubuh 44,0 313,9 13.811

Dari contoh ini dapat dilihat bahwa penambahan 2 liter larutan natrium klorida hipertonik menyebabkan peningkatan volume cairan ekstraseluler lebih dari 5 liter, sekaligus menurunkan volume cairan intraseluler hampir 3 liter.

Metode perhitungan perubahan volume dan osmolaritas cairan intraseluler serta ekstraseluler ini dapat diterapkan pada hampir semua masalah klinis yang berkaitan dengan regulasi volume cairan. Pembaca harus memahami perhitungan-perhitungan tersebut karena pemahaman mengenai aspek matematis keseimbangan osmotik antara kompartemen cairan intraseluler dan ekstraseluler sangat penting untuk memahami hampir semua kelainan cairan tubuh serta penatalaksanaannya.